Selasa, 18 November 2014

Salah Satu Mukjizat al-Qur’an adalah Rasional



Nabi Yang Dijanjikan
Kekuatan Muhammad SAW adalah Al-Qur’an,
dan mukjizat al-Qur’an adalah rasional
 (DR.Muhammad Husain Haekal)[1]


Kedudukan Rasulullah bagi umatnya, tidak akan dikabulkan doa seorang hamba jika tidak dibuka dan ditutup dengan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw.

Tidak Akan Mengenal Islam Dengan Sempurna
Tanpa Mengenal Pembawanya

TUGASKU menjadi guru inilah yang memberiku peluang menulis. Mula-mula hanya membaca demi menjawab sejumlah masalah yang dihadapi di kelas. Lalu membaca demi mencari kebenaran. Kebenaran yang dihamparkan oleh Pemilik Kebenaran. Membaca dengan melibatkan pemilik Ilmu Pengetahuan. Hingga aku merasa perlu berbagi denganmu. Sahabat-sahabatku dalam mencari kebenaran. Kali ini aku sampai pada pencarian kebenaran dalam kitab-kitab kuno. Kitab-kitab suci dunia.
          APAKAH ada yang mampu membantah kenyataan bahwa Nabi Muhammad SAW dan risalah yang dibawanya, terdapat keraguan?  Jika hujjah yang tak terbilang banyaknya itu belum juga mampu meyakinkan dan menyadarkan pihak yang meragukan kebenaran kenabian Muhammad. Lalu bagaimana dengan fakta yang terungkap dari berita-berita yang terdapat dalam kitab-kitab agama terdahulu. Kitab-kitab agama Hindu, Buddha, Parsi, Yahudi dan kitab agama Nasrani.
          Tak ada paksaan yang perlu dilakukan untuk meyakinkan para pencari kebenaran tentang Muhammad dan risalahnya. Bahkan mengingkarinya sekali pun tak pernah menggeser kebenaran tersebut.  Kebenaran bahwa Muhammad SAW telah terpilih sebagai Nabi Dunia sekaligus Nabi akhir zaman. Risalahnya pun merupakan risalah untuk sekalian alam. Risalahnya menjadi risalah penyempurna risalah-risalah sebelumnya.
          Dialah Nabi yang menjadi tumpuan pengharapan dunia yang kedatangannya telah dijanjikan. Nabi Dunia yang telah dijanjikan, pada kitab-kitab terdahulu. Nabi yang dipilih dan diangkat secara khusus, mendapat tugas khusus yang maha berat sekaligus maha mulia. Tugas penyelamatan dunia dari kegelapan, kenistaan dan kesesatan serta mengembalikannya kepada derajat yang tinggi dan kemuliaan manusia sebagai makhluk utama disegala zaman.
          Zaman Jahilliyah demikian Al-Qur’an menamakannya, sebuah sketsa kerusakan moral dan kemerosotan spiritual umat manusia kala Muhammad diutus. Penyembahan berhala merupakan bentuk kesesatan yang telah melanda kehidupan kala itu, Seakan cahaya Ilahi tidak pernah datang melalui utusan-utusan-Nya. Ajaran-ajaran sesat dan ritual-ritual kerohanian yang sulit dinalar melanda kehidupan manusia. Mengikis habis ajaran Tuhan yang disampaikan utusan-utusan sebelumnya. Adakalanya utusan pun mereka sembah sebagai jelmaan Tuhan. [ð]


[1] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Litera AntarNusa. Cet 28, Hayat Muhammad diterjemahkan oleh Ali Audah. PT Mitra Kerjaya Indonesia : Jakarta, 2003. hlmxxxiv

Tidak ada komentar:

Posting Komentar